Kamis, 23 September 2010

SAYYID JALALUDDIN BIN MUHAMMAD WAHID AIDID


Sayyid Jalaluddinn bin Muhammad Wahid Al-Aidid lahir di Aceh, tahun 1603, merupakan cucu dari Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam. Juga merupakan keturunan Hadramaut yang masih keturunan langsung dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Ra, putri dari Rasulullah Saw. Tepatnya keturunan yang ke-27 dari Nabi Muhammad Saw.

Ia sempat menuntut ilmu ke negeri Timur Tengah. Saat ia tiba di kerajaan Goa Makassar pada abad 17 pada masa pemerintahan Sultan Alauddin, sempat singgah terlebih dahulu ke Banjarmasin untuk menyebarkan agama Islam. Di Makassar beliau kemudian diangkat menjadi Mufti kerajaan. Oleh Sayyid Jalaluddin, Putra Mahkota kerajaan Goa diberi nama Muhammad al-Baqir Imallombassi Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin. Dan Sultan Hasanuddin merupakan muridnya yang pertama, dan berguru padanya selama 16 tahun. Diberitakan bahwa Syekh Yusuf berguru kepadanya selama 3 tahun dan atas petunjuknya kemudian Syekh Yusuf diberangkatkan ke Timur Tengah untuk memperdalam ilmunya.

Beberapa bukti yang menunjukkan bahwa beliau berasal dari Aceh adalah naskah-naskah agama yang beliau bawa merupakan karangan-karangan Nuruddin ar-Raniriy, yaitu Akhbarul Akhirah dan Ash-Shiratal Mustaqim. Sampai sekarang naskah-naskah tersebut masih digunakan oleh anak keturunan beliau di Cikoang dan telah disalin berulang-ulang. Kedatangan beliau ke Sulawesi Selatan — seperti dikutip Abd. Majid Ismail dari Andi Rasdiyanah Amir, dkk. dalam Bugis Makassar dalam Peta Islamisasi, 1982 —merupakan gelombang lanjutan dari proses Islamisasi kerajaan-kerajaan Bugis Makassar sesudah periode Dato’ ri Bandang, Dato’ di Tiro dan kawan-kawan pada awal abad ke-17.

Ia menikah dengan Daeng Ta Mameng binti Sultan Abdul Kadir Alauddin, seorang putri bangsawan yang masih mempunyai darah kerajaan Gowa, dan mempunyai 5 orang anak. Saat ia pertama datang ke Makassar banyak yang meragukan bahwa ia seorang keturunan dari Hadramaut, karena pada saat itu faham Al-Aidid belum menyebar di Indonesia, sehingga ia diacuhkan oleh sultan Makassar. Sehingga ia berpindah ke Cikoang dan menyebarkan agama Islam disana.

Upacara Maudu Lompoa

Untuk tujuan menyebarkan agama Islam itulah, Ia memulai tradisi upacara "Maudu Lompoa." Dimana sengaja diselenggarakan upacara tersebut bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal, yaitu maulid Nabi Muhammad Saw. Ia menulis kitab Rate’ yang berisi inti dari ajaran agama Islam serta riwayat hidup Rasulullah Saw hingga Jalaluddin Al-Aidid. Dimana isi dari kitab tersebut dibacakan pada setiap peringatan maudu Lompoa tersebut.
Dalam mengajarkan Islam di tanah Sulawesi Selatan, Sayyid Jalaluddin Al-‘Aidid mengajarkan 3 hal penting yang kemudian menjadi faktor utama terwujudnya upacara Maudu’ Lompoa, yaitu prinsip al-Ma’rifah, al-Iman dan al-Mahabbah.

Dengan prinsip itu diyakini bahwa pemahaman ruhaniah secara hakekat terhadap Allah terlebih dahulu harus didahului dengan pemahaman mendalam atas kejadian dan kelahiran Nabi Muhammad saw. Masyarakat Cikoang mengenal 2 proses kelahiran beliau, yaitu kelahiran di alam ghaib (arwah) dan kelahiran di alam syahadah (dunia).
Kejadian di alam ghaib berwujud “Nur Muhammad” yang diciptakan Allah sebagai sumber segala makhluk yang daripadanyalah tercipta alam semesta ini. Masyarakat di Cikoang — khususnya para Sayyid — percaya bahwa Allah menyinari dan memberi cahaya langit dan bumi (bertajalli) melalui “Nur Muhammad” yang diciptakan Allah sebagai pokok kejadian segala makhluk dan rahmat bagi seluruh Alam.

Sedangkan kelahiran beliau di alam syahadah ini diyakini merupakan kelahiran dengan membawa kebenaran yang mutlak untuk dipegang. Karenanya sebagai upaya untuk menyinambungkan ikatan pada dua konsepsi dasar kelahiran Nabi prosesi peringatan maulid menjadi sesuatu yang amat sakral. Masyarakat Takalar —khususnya para sayyid—  meyakini sepenuhnya kelahiran Rasulullah saw merupakan isyarat kemenangan. Dan kemenangan harus diwujudkan dalam penguatan ikatan cinta melalui maudu’ lompoa kepada hasrat suci Nabi.

Saat perang adu domba Belanda bergejolak antara suku Bugis di Buton dan suku Makassar di Gowa, beliau ikut membantu dalam perlawanan melawan Aru Palaka, Raja Bone. Kemudian, Saat perang mulai bergejolak dengan ditolaknya perjanjian Bungaya oleh Karaeng Galesong, Karaeng Bontomaranu, serta Sultan Bima II Abdul Khair Sirajuddin pada tahun 1667. Maka dengan perjanjian yang mengharuskan Karaeng Galesong dan sultan Bima II Abdul Khair Sirajuddin untuk diserahkan kepada pihak Belanda karena dianggap musuh yang paling besar dan berpengaruh, maka mereka melarikan diri ke tanah Jawa. Sayyid Jalaluddin pun turut serta dalam acara melarikan diri tersebut. Mereka mendarat pertama di ujung barat pulau Sumbawa, sesampainya disana mereka berpisah. Dimana Karaeng Galesong, sultan Bima II Abdul Khair Sirajuddin, serta laskar Karaeng Galesong melanjutkan perjalanan ke tanah Jawa di arah barat. Sedangkan Sayyid melanjutkan perjalanan ke arah timur hingga tiba di Bima. Dengan membawa seluruh harta yang mereka bawa dari Makassar, dan mengganti nama selama perjalanan menjadi Mutahar.

Sayyid Jalaluddin Aidid hidup di Bima sekitar 30 tahun, dimana Ia menyebarkan agama Islam di Bima. Walaupun demikian, beliau tetap memiliki kendala yaitu belum terkenalnya faham Al-Aidid sebagai bagian dari Hadramaut, dibandingkan dengan nama-nama hadramaut lain seperti Assegaf, Kaff, dan yang lainya. Maka ia menerima keraguan dari para sultan dan orang-orang kerajaan.

Sayyid Jalaluddin Aidid wafat saat menyebarkan agama Islam di daerah pedalaman Bima tahun 1693, dimana ia mencoba mengajak para penduduk asli yang masih tinggal di puncak gunung untuk masuk kedalam agama Islam. Dengan alasan bahwa ajaran yang dibawa oleh Sayyid jalaluddin Aidid adalah ajaran sesat. Para pihak Belanda mencoba untuk mengadu domba, sehingga ditikamlah Sayyid Jalaluddin Aidid dengan tombak oleh salah satu penduduk. Saat ia sekarat, Belanda menembaknya hingga tewas.

Saat ini makam Sayyid Jalaluddin Al-Aidid berada di Bima. Di puncak bukit salah satu dusun terpencil di Bima, dimakamkan oleh para pengikut setianya serta para penduduk yang mengikuti ajarannya. Saat ini tempat itu menjadi pemukiman yang kental nilai Islaminya, baik dari segi kehidupan sehari-hari hingga tradisi adat mereka. Doa tak putus-putusnya untuk Sayyid Jalaluddin bin Muhammad Wahid Al-Aidid, semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT, dan ditempatkan di syurga-Nya. Amin.

Sumber: http://ardyaidid.blogspot.com

2 komentar:

  1. Asslm. dimana bisa saya dapatkan gambar atau foto Habib Sayyid Djalaluddin bin Muhammad Wahid Al-Aidid. saya sangat suka dengan sejarah beliu tapi saya tidak tau rupa beliau. trimakasih.
    NB: yang mau berbaik hati, boleh mengirim ke email saya, fathejhe@gmail.com

    BalasHapus
  2. APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?

    Dlm Al Quran yang menyebut 'ahlulbait', rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah".

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: 'Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu 'ahlulbait' yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    3. QS. 33:33: "...Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu 'ahlulbait' dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya".

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait menjadi universal:

    1. Kedua orang tua para nabi/rasul;.

    2. Saudara kandung para nabi/rasul.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah bukan termasuk kelompok ahlul bait.

    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    “Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Kesimpulan dari tulisan di atas, bahwa pewaris tahta 'ahlul bait' yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya seperti Saidina Hasan dan Husein maupun yang perempuan bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

    BalasHapus