Kamis, 23 September 2010

SYARIFAH FATMA BINTI ABDULLAH AIDID ( KRAMAT PETOGOGAN )


Sekitar tahun 1700 M atau 1100 H didaerah yang sekarang bernama Kebayoran Baru, hiduplah seorang tuan tanah yang Bernama Saimun. Dia mempunyai seorang putri yang bernama Sakinah. Pada suatu waktu Saimun jatuh sakit dan dia telah berupaya dengan berbagai cara untuk mengobati penyakitnya. Kemudian dia membuat nazar akan menikahkan putrinya kepada orang yang dapat mengobati penyakitnya.

Adalah seorang laki-laki yang datang dari negeri Hadromaut, Yaman yang merantau ke negeri Indonesia khususnya Jakarta untuk menyebarkan Agama Islam kepada penduduknya, Beliau bernama Habib Abdullah bin Muhammad Aidid yang merupakan masih keturunan daripada Nabi Muhammad SAW. Beliaupun diminta oleh Saimun untuk mengobati penyakitnya, dengan niat ikhlas Habib Abdullah lalu mengobatinya. Dengan izin Allah SWT maka Saimun dapat sembuh dari penyakitnya.

Sesuai dengan nazarnya, Saimun pun menikahkan putrinya dengan orang yang dapat mengobati penyakitnya yaitu Habib Abdullah Bin Muhammad Aidid. Dari pernikahan tersebut lahirlah seorang putri yang mereka beri nama Fatma.
Syarifah Fatma binti Abdullah Aidid pun tumbuh dan berkembang menjadi seorang putri yang cantik dan salehah. Pada umurnya yang sekitar 8 tahun lebih telah mampu hapal Al Qur'an, dan beliaupun mampu mengobati orang yang sakit dengan karomahnya. Dan pada umur 9 tahun-an ketika beliau mendapatkan haid pertamanya dan setelah bersih dari haidnya, Beliau meninggal dunia.

Habib Abdullah menguburkan Jasad putrinya dan beliaupun kini tinggal sendirian setelah sebelumnya mertua dan istrinya telah meninggal lebih dahulu dari anaknya. Karena itu beliau memutuskan untuk kembali ke negerinya dan meninggalkan seluruh hartanya untuk diwakafkan dan menyerahkan kepada pembantunya sambil berpesan untuk menjaga dan merawat makam putrinya,

Dan juga disebutkan salah satu karomah  Makam Syarifah Fatma, apabila ada burung yang terbang melintas diatas makamnya maka akan terjatuh, juga pesawat udara yang terbang diatasnya akan diam tak bergerak.
Dan dimasa penjajahan Belanda, para pejuang kita apabila mereka mencegat iringan konvoi tentara Belanda menuju daerah Kota atau pelabuhan Sunda kelapa dan para pejuang terdesak, mereka berlari kedaerah sekitar makam. Jika Belanda menembakkan meriamnya ke arah pejuang yang bersembunyi didaerah makam Syarifah Fatma, maka meriam itu tidak akan meledak.

Dan lainnya adalah bahwasannya cahaya dari kubur Sunan Cirebon dan juga Sunan Banten itu menyatu dengan cahaya dari kubur Syarifah Fatma lalu memancar ke langit.

Demikianlah riwayat singkat Wan Syarifah Fatma binti Abdullah Aidid atau Kramat Petogogan yang makamnya berada di Jalan Nipah, Kebayoran Baru, tepatnya di belakang kantor walikota Jakarta Selatan di areal pekuburan Petogogan Blok P, Kebayoran Baru.

Di makam itu juga setiap hari Minggu Subuh diadakan kegiatan shalat subuh berjamaah dan dilanjutkan ziarah ke makam Wan Syarifah Fatma binti Abdullah Aidid yang di pimpin oleh Habib Quraisy Bin Ali Aidid yang merupakan keturunan langsung Wan Syarifah Fatma yang merasa memiliki rasa tanggung jawab untuk melestarikan dan meramaikan mushala dan makam, beliau juga pimpinan Majlis Ta'lim Dzikrullah Maula Aidid, Pekojan.

Semoga kita dapat mengambil hikmahnya dan juga dapat megikuti kegiatan shalat subuh berjama'ah setiap minggu subuh untuk mengambil barokahnya. Waallahu A'lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar